No Lies Lied

Bogor, September 2010

Aku teringat sebuah kutipan

“Once you lies, you better keep that lie until you die, or else you lost your trust”
Sekali kau berbohong, sebaiknya kau simpan kebohongan itu dan bawa ke alam kubur. Atau kau akan kehilangan kepercayaan


Aku lupa ini aku sadur dari mana, dan mungkin tidak tepat seperti itu. Namun maknanya tidak berubah.

“Separah itu kah efek dari sebuah kebohongan”
Batinku setelah mendengar ucapan itu

Aku paham seberapa susah membangun kepercayaan, dan tentu saja aku tidak akan terima jika sesuatu yang susah untuk dibuat, hancur lebih cepat daripada ketika dibangun.

***

“Kita sepakat untuk tidak berbohong kepada siapapun yang terkait dengan hubungan kita”
Ucapku sambil memandang matanya lamat-lamat.

Itu merupakan komitmen pertama dan mungkin yang utama dalam hubungan yang kita akan mulai ini –Tidak ada kebohongan– yang akan kita jalani hingga nanti, entah kapan.

“Ya, aku lelah dengan kebohongan. Aku tidak ingin mengulangi kebohongan-kebohongan bersamamu. Istana kebohongan yang aku buat sudah terlalu besar, dan kau tahu itu”
Dia menjawab.

Hanya satu kalimat, namun itu adalah komitmen kita bersama. Kita menjunjung itu, dan kita menghargai itu lebih dari status kita. Pacar.

Aku seringkali berpendapat, alasan apapun yang kau buat demi sebuah kebohongan adalah palsu. Karena aku tidak yakin, alasan itu bohong atau benar. Alasan itu juga tidak akan merubah kenyataan bahwa kau telah tega untuk berbohong.

***

“Maaf, aku belum bisa memberitahu hal itu kepadamu. Belum”
Aku menjawab. Menunduk.

Aku tahu dia kecewa dengan kenyataan bahwa aku harus menahan sesuatu, sesuatu yang sebenarnya aku ingin sekali berbagi dengannya.

“Dia berhak tahu, Dia berhak tahu!!”
Aku menangis di dalam hati, menangis karena tidak bisa berbagi dengannya. Orang yang hatiku pilih untuk berbagi.

“Tak apa, aku bisa memahami itu. Aku senang, kau bisa bilang kalau ada sesuatu yang belum seharusnya ku ketahui”
Dia tersenyum.
“Mungkin ada saatnya kau akan berbagi, bukan sekarang”
Ucapnya sambil mengelus kepalaku.

Aku senang.
Dia memang bukan manusia yang pertama aku temui, dan mungkin bukan manusia pertama yang bisa mengerti. Tapi dia paham.

Bebanku terangkat sebagian, perasaan bersalah akibat menutup-nutupi kenyataan lenyap sudah. Aku akan berbagi tentang hal itu. Nanti.

“Matamu, basah…”
Ucapnya, ketika dia melihat ke arahku.

Aku tidak bisa menahannya, luapan senang, haru, dan lega ketika ada yang bisa mengerti, namun juga sedih karena tidak bisa berbagi. Entah sejak kapan aku manangis, sudah cukup lama nampaknya.

“Maaf, ini.. ”
Tangannya menyeka mataku, aku menunduk. Malu.
“Ini bukan karena kau, aku hanya…”

“Sst.. cukup..”
Ucapnya, sambil mengusap kepalaku.

“Terima kasih”
Aku tidak bisa berkata-kata, hanya itu yang bisa kuucapkan.
“Termia kasih”
Aku membatin.

Dia tidak menjawab, hanya tersenyum.

***

You may also like

Leave a Reply