#1 Bergantung Pada Arus Laut

Ketika sudah kesekian kali kau mengayunkan jangkar untuk bersauh, namun tidak juga menemukan tempat yang cukup kuat. Akankah kau berlabuh?

Pelabuhan ke tiga dalam pengalaman pertamaku berlayar, jangkar yang ku ayunkan tetap saja terlepas..

Tidak pernah ada yang mengajariku bagaimana mengemudikan kapal, apa yang harus aku lakukan ketika ada badai atau hujan, bagaimana aku dapat membelah ombak, bagaimana aku dapat menemukan pelabuhan berikutnya, dan bagaimana cara membaca peta dan menggunakan kompas. Aku hanya diberi tahu oleh sang empunya kapal, kalau kapal ini akan hancur suatu waktu tanpa diberitahu kapan. Menurut rekan sesama nahkoda yang bertemu denganku di pertengahan jalan, kabarnya aku perlu mencari pelabuhan sebelum kapal ini hancur. Di pelabuhan itu aku akan mendapatkan petunjuk tentang apa yang aku perlu lakukan berikutnya. Itu adalah pelabuhan ke tiga yang aku telah coba labuhi, dan tetap jangkarku tetap tidak dapat bersauh.

Teringat kembali bagaimana rasanya ketika aku dapat mendekati pelabuhan pertamaku, tidak terlalu ramai disana. Di pinggir pelabuhan ada seseorang yang berdiri, memberitahu untuk jangan melabuh di situ. Sepertinya pelabuhan itu masih baru, belum kuat menerima kapal besar seperti milikku.

Di dalam kapal ini aku sendiri, kadang ada beberapa orang awak atau rekan sesama nahkoda yang ikut berlayar. Dia menjangkarkan kapalnya di suatu tempat kemudian menandainya di peta. Agar suatu saat, dia dapat kembali berlayar. Kalau terjadi kerusakan, biasanya selalu ada kapal-kapal lain yang bersedia berhenti untuk membantu. Memberikan sumbangan makanan, dan bahan-bahan untuk memperbaiki kapal. Bayarannya? seringkali mereka hanya mengucapkan, doakan aku dapat segera menemukan pelabuhan. Kadang aku jumpai juga orang-orang yang sudah menemukan pelabuhannya kembali berlayar, hanya untuk mengenang masa-masa mereka dahulu. Terkadang mereka secara sukarela minta dipekerjakan sebagai kru kapal. Nostalgia katanya.

Ada satu tanda -yang baru belakangan aku tahu- kalau pelabuhan itu sudah tidak boleh disinggahi. Bendera kuning di atas tiang utama kapal. Peraturan tidak tertulis diantara nahkoda kapal. Nahkoda lain boleh meminta tolong, meminta bahan makanan, bahkan menawarkan lowongan menjadi kru kapal, atas izin yang telah lebih dahulu merapatkan dan mengibarkan bendera kuning di pelabuhan itu.

Pelabuhan kedua yang dahulu aku coba singgahi sekarang sudah memiliki kapal yang berlabuh, bahkan bendera kuning sudah berkibar diatasnya. Teringat dahulu aku pernah mencoba bersauh disana. Pelabuhan yang ini cukup ramai, sering di singgahi orang. Pantai pelabuhan ini putih, angin yang berhembus tidak begitu kencang. Di belakang pantai ada kumpulan kelapa-kelapa liar, aku sempat berbincang sebentar dengan orang yang ketika itu baru beranjak dari sana. Katanya, warga sekitar pelabuhan itu ramah-ramah. Ketika aku mencoba membuang sauh di dekat pelabuhan itu, jangkarku tidak dapat mencengkram dengan kuat.

Aku mengalami badai pertamaku tidak jauh dari pelabuhan yang kedua. Badai yang cukup besar, dan berlangsung selama beberapa hari. Aku yang belum berpengalaman melawan badai, memilih bertahan sekedarnya dan mencoba menyesuaikan layar dengan angin. Aku sempat kehilangan arah setelah badai itu, rute yang telah ku catat di peta  lokasi pelabuhan-pelabuhan yang telah ku singgahi menjadi percuma. Sambil memulihkan kondisi kapal yang rusak dengan cadangan sumberdaya peralatan dan bahan-bahan yang tersisa di kapal, aku bertahan di satu tempat. Akan lebih mudah untuk meminta pertolongan atau bahan-bahan kepada nahkoda yang lewat jika diam di suatu tempat, pikirku.

Suatu saat, aku diberitahu oleh nahkoda bahwa ada persinggahan di tengah laut. Tempat untuk beristirahat, disana disediakan kamar yang dapat disewakan. Disana juga terdapat tempat berkumpul para nahkoda yang tengah berlayar, untuk bertukar informasi, atau sekadar bercengkrama. Sebuah Bar. Setelah kondisi kapalku cukup baik, aku melanjutkan perjalanan ke arah persinggahan itu. Tempatnya besar, dapat menampung beberapa kapal sekaligus. Tampaknya ini merupakan kapal yang di rancang ulang, sehingga dapat menampung banyak kapal-kapal lain yang ingin berlabuh sementara. Akupun terheran-heran kenapa dia tidak segera mencari pelabuhan, suatu saat ujarnya. Suatu saat, dia akan kembali berlayar untuk mencari pelabuhan. Untuk saat ini, dia lebih senang melihat hingar-bingar para nahkoda yang minum sambil tertawa.

Aku mempekerjakan diri di bar itu, sebagai pramusaji. Sebagai gantinya aku bisa memperoleh informasi tentang arah pelabuhan terdekat, dan aku bisa membeli perlengkapan dan makanan untuk ku berlayar. Namun, seperti hancurnya kapal yang tidak dapat diduga, perubahan keinginan pemilik bar ini tidak dapat juga diduga. Suatu siang, ketika aku sedang melayani nahkoda gila yang entah sudah berapa kali dia melemparkan sauhnya, yang kadang heboh dengan ceritanya bahwa di suatu tempat ada pelabuhan yang serupa surga, aku diberi kabar bahwa bar itu akan tutup, dan pemiliknya ingin kembali berlayar. Aku pun terpaksa mengikuti kehendaknya. Dengan perbekalan yang cukup, aku juga mulai berlayar mencari pelabuhan yang dapat kusinggahi sebelum perahu ini hancur.

You may also like

Leave a Reply