Ends when it Starts

“Apa yang dapat aku minta dari sebuah malam selepas bertemu denganmu seharian?”

“Kamu orangnya takutan nggak?”

Aku tiba-tiba dihadapkan dengan pertanyaan yang cukup random untuk sebuah pagi

“Takutan sama apa? kalo ama tawon, IYA”

“Ta…WON?”

“Iya, kalo ada tawon, bahkan suaranya aja.. gw reflek tutup kuping”

“Emang ada hubungannya tutup kuping sama tawon? Jangan bilang sambil baca mantra Pait.. Pait..”

“Ya, kurang lebih gitu..”

“Penakut..”

Iya, karena kejadian beberapa tahun lalu, aku pernah di sengat di pipi oleh beberapa tawon yang tidak sengaja terusik. bahkan hingga saat ini, aku terlatih untuk reflek menutup telinga seperti yang banyak dilakukan anak-anak kecil disekitar rumahku ketika ada tawon atau lebah, tentunya sambil merapal manta sakti. Entah apa hubungannya, tapi itu membuatku aman.

“Emang, elu nggak takut asma binatang apaaa gitu?”

“Ermm.. binatang nggak, tapi gw takut badut”

Tidak disangka, gadis kecil perkasa ini takut sekali dengan badut. Sebenarnya aku sudah tahu akan hal ini, aku sudah menanyakannya diam-diam kepada teman dekatnya. Pendekatan.

“Badut? Sindrom takut sama Joker gara-gara nonton Batman?”

“Jangan Joker deh, badut yang biasa anak kecil liat aja gw bisa ngabur kalo ada. Serem.”

Memang dandanan badut itu agak sedikit mengerikan, apalagi ditambah dengan ornamen-ornamen disekitar mata dan hidung. Belum lagi ditambah senyuman si joki badut yang setengah memaksa, kadang mungkin karena sudah terlalu lelah.

“Kalo jatuh cinta, takut?”

Topik ini membanting terlalu cepat. Tapi aku tidak tahan lagi untuk bertanya.

“….”

“….”

Satu menit.. dua, tidak lebih dari 10 menit diam berlalu. Mendadak aku menyesal bertanya.

Tidak seharusnya aku membawa topik badut menyeramkan menjadi sesutu yang dapat menghentikan detak jantungku kapan saja. Ini tidak ada apa-apanya dibandingkan tawon.

Dalam 10 menit terakhir, aku melihat jam tangan hingga tiga kali per menit. orang bisa saja menyangka aku teroris yang akan meledakkan tempat ini dan melarikan diri sesaat sebelum peledakan.

“….”

“….”

Dan sepertinya ini bukanlah tandingan badut sulap yang mungkin dia anggap menyeramkan.

“….” “Aku…”

dia mulai berbicara, setelah lebih dari 10 menit berlalu. 10 menit yang sangat lama, mungkin ini yang dirasakan para teroris-teroris yang menunggu bom nya meledak.

“Gw..”

“…takut dengan perjumpaan sementara”

‘Perjumpaan sementara’ ini memiliki makna yang sangat luas, tentu saja jika merujuk kepada kepercayaan agama kita tidak akan hidup selamanya. Tapi sepertinya bukan itu yang dia maksud.

“…”

Kali ini aku yang terdiam, memikirkan segala kemungkinan maksud dari pernyataan yang baru saja diucapkan olehnya.

“…”

aku sudah tidak sanggup untuk melihat jam tangan lagi, kepalaku sudah penuh terisi oleh rangkaian simulasi kompleks tentang bagaimana seharusnya ‘Pertemuan sementara’ itu.

Tak lama dia menatapku, mengharapkan jawaban, respon.

Gw… juga..” dengan hati-hati aku rangkai jawaban, menyusun perkataan agar tidak multitafsir.

“… takut” lanjutku, setengah terbata.

“gw.. takut kalo suatu hari harus pisah sama lo, sebelum sempet bilang kalo..”

deg.. deg.. deg..

ada suara kedua yang mengikuti dari dalam, Jantung.

Jantungku serasa ingin melompat keluar. Denyutannya terasa hingga leher.

Mulutku kering, terbata. Kemampuan berbicara ku turun drastis hingga level anak umur 1 tahun yang baru saja belajar mengucapkan kata “Papa”

Matanya tetap melihatku, mengunci. Seakan memaksa kata-kata berikutnya untuk segera keluar dari mulutku.

aku menarik nafas dalam-dalam, berusaha mengucapkan setiap maksud yang aku ingin utarakan dalam satu kalimat singkat.

“pacaran yuk..”

susunan kata-kata acak, dari sekian banyak kosakata Bahasa Indonesia. dari sekian panjang struktur kalimat baku SPOK. aku memilih kalimat PO, tanpa subjek, tanpa keterangan.

sorot matanya masih melihat ke arahku, aku tidak tahu apakah dia fokus atau stun dan melamun akibat aku terlalu lama menjawab.

tidak lama bibirnya bergerak, berusaha mengucapkan sesuatu..

mungkin jika ada yang dapat mengambil foto dari telinga dan leherku. dapat terlihat bahwa pembuluh darah disekitar wilayah telinga, leher, dan mungkin seluruh wajahku sedang menerima suplai darah berlebihan, sehingga terasa berdenyut, panas, dan memerah.

aku hanya butuh tiga huruf, tiga huruf. kombinasi dua huruf vokal dan satu konsonan.

“hmm…”

dia bergumam.. berpikir, atau hanya sengaja membuat adrenalin ku naik.

Saat ini aku memilih untuk menaiki jet coaster Dufan 10 kali berturut-turut

****

You may also like

Leave a Reply