Above Everything

Setelah semua sedih yang kau jalani, setelah semua kegembiraan yang kau alami. Setelah semua harta yang kau miliki, setelah semua usaha yang kau lakukan untuk bertahan hidup hingga akhirnya kau digantikan oleh generasi yang baru. Kau akan tetap berterimakasih kepada Tuhan

Kapan kita mulai berpikir, bertanya, mencoba mengira-ngira akan Tuhan?

Apakah ketika kita masih balita, dimana kita mungkin sering mendengar tentang kata Tuhan diucapkan oleh orang-orang di sekeliling kita, tanpa tau apa Tuhan itu.

Apakah ketika mulai mengenal konsep agama yang diajarkan di sekolah-sekolah dasar? Dimana kita mulai diberitahu bahwa masing-masing agama memiliki Tuhan mereka sendiri-sendiri.

Apakah ketika kita mulai merasakan keajaiban-keajaiban yang terjadi di sekeliling kita, yang kemudian tidak dapat dijelaskan dengan ilmu pengetahuan, yang kemudian kita yakini sebagai kehendak Tuhan.

Apakah ketika kita memiliki keyakinan bahwa ada sesuatu diatas semuanya, sebuah pernyataan yang dapat mengakhiri pertanyaan-pertanyaan tanpa ujung,
“Kehendak Tuhan…”

Seorang bocah sekolah dasar tentu tidak mengetahui tentang Tuhan ataupun ketuhanan, namun kita sudah diharuskan untuk menjawab pertanyaan
“Agama kamu apa?”

Yang kemudian mereka tanyakan kepada orang tua mereka, yang mungkin termasuk pertanyaan pamungkas sebuah anak-anak selain proses seksual manusia dan mengapa manusia bisa saling menyukai.
“Tuhan itu siapa?” atau “Tuhan itu apa?”

Jawaban dari pertanyaan seperti ini berbeda-beda tergantung agama, sesuatu yang kemungkinan diciptakan oleh manusia dalam upaya untuk menjelaskan sesuatu yang abstrak.

Meninjau kebelakang, kebanyakan kita tidak memilih meyakini Tuhan seperti yang kita inginkan. Kita terpaksa memahami Tuhan dengan cara yang telah ditentukan, melalui Agama. Melalui agama, kita tahu bahwa manusia mencoba menggambarkan Tuhan dengan berbagai cara. Ajaibnya, manusia tetap memperlakukan Tuhan dengan cara yang sama, menyembahnya.

“Mengapa kita menyembah Tuhan?” merupakan pertanyaan yang kurang sesuai dengan apa yang sering kita alami sehari-hari, menurutku lebih tepat jika kita bertanya “Mengapa kita butuh Tuhan?”

“Terima kasih Tuhan” kita ucapkan ketika kita menerima sesuatu yang tidak terduga..
“Maafkan aku Tuhan” kita ucapkan ketika kita berbuat salah kemudian bertobat
“Kumohon Tuhan” kita ucapkan ketika kita berharap akan sesuatu yang kiranya sudah diluar kemampuan
“Tuhan..”

Eksistensi terhadap sesuatu yang berada diluar kuasa manusia, apakah itu Tuhan?

Dengan semua pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan, Puji Tuhan aku bisa masih bisa memikirkan tentang Tuhan.
Semoga Tuhan tidak marah.

You may also like

Leave a Reply