The Long Pause

Tidak pernah ada “saat yang tepat” kecuali sekarang…

“Pacaran, yuk?”

***

“hmm… pacaran? siapa?”
dia menjawab sambil menoleh kanan dan kiri, meyakinkan diri kalau aku tidak salah bertanya.

“iya, kita. yuk?”
aku bahkan tidak bisa melihat ekspresiku seperti apa, apakah wajahku merona merah, apakah aku salah memilih saat yang tepat, apakah dia akan menerimaku?

“…”

“…”

“kenapa disini sih ngomongnya?” Dia balik bertanya

dear, Lord.. how if You make her answer my question first..
sesungguhnya, alangkah lebih baik jika dia berbaik hati menjawab, iya atau tidak, terlebih dahulu. Setidaknya resiko aku mengalami takikardia akut menjadi lebih berkurang.

“kalo nggak disini, emang harusnya dimana?” aku mengembalikan pertanyaan itu.
Ini sebuah pertanyaan rekursif yang tidak berujung. Bahkan aku tidak tahu mengapa disini, aku hanya percaya bahwa kalau tidak sekarang, maka kesempatan berikutnya akan datang dalam bentuk yang lebih sulit.

Sebelum ini, aku bertemu di malam hari, semudah mengajak menemani makan malam. Sebelumnya lagi, aku bertemu di malam hari, tanpa usaha yang berarti. Hari ini untuk bertemu aku harus menjadwalkan ulang janji, terpaksa merubah tempat karena macet, dan hujan tidak berhenti sampai aku berangkat. Semesta mencoba menguji aku lebih keras setiap aku mengurungkan niat untuk berbicara rasa. Aku ragu akan ada lain kali.

“…” Dia terdiam.
Sementara aku masih terus mengira-ngira akankah ia menerima ajakanku.

sambil jalan pulang yuk, udah malem juga loh..”
Aku kemudian mengeluarkan motor dari tempat parkir, bersiap pulang..

***

Di perjalanan, tidak ada percakapan berarti. 30 menit yang dingin, dan menyiksa jantung. Jantungku tidak berdetak lebih pelan dari sebelumnya. Aku hanya berharap, dia merasakan hal yang sama.

***

“Jadi, tawaran yang tadi?” aku membuka pembicaran sesampainya di kos-kosan. Membaranikan diri bertanya, membuang malu.

“tapi, aku nggak mau kalo cuman pacaran aja..” dia menjawab.

aku kemudian tersenyum, dan mengangguk.,
“aku serius, walaupun terlihat seperti main-main. dua kata itu saja sudah cukup sulit untuk diucapkan..”
aku mencoba menjelaskan.

dia tersenyum balik, dan mengangguk.
“iya..”

The long pause has ended.
40 menit terpanjang dalam hariku selama beberapa tahun terakhir. Satu dari sekian banyak saat-saat menarik kedepannya, bersama dia.

You may also like

1 Comment

Leave a Reply