Trip #2 2013, Makassar – Tanjung Bira (Part 1)

Jujur, nggak inget gimana ceritanya bisa ngintil buat trip ke Tanjung Bira, Sulawesi Selatan ini. Ingatan gue kurang banget, yang bisa dilacak cuman tanggal 11 September 2013 gue pesen tiket Jakarta – Makassar – Jakarta, dan saat itu gw lagi pengen liburan. Tiga orang yang kerjaannya loncat-loncat liburan, @hniawita, @kriz_nugroz, dan @sifapuy. Mereka yang jadi pemicu trip ini, seenggaknya buat gue. Belakangan, Gue, Daryl, dan @medy_ramd, yang kemudian ngintil ikutan ide mereka.

Trip ini ribet, pesertanya ada 6 orang yang datengnya pisah-pisah. Gue-Daryl dateng 20 November siang hari, @medy_ramd dateng 20 November malem hari, @kriz_nugroz dateng 20 November malam hari, si @hniawita-@sifarachmah dateng 21 November, tengah malem.
“Kok datengnya pisah-pisah?” Tanya nenek gue.
“Tiket promo mi, soalnya”
Demi low-budget, gue minta tolong untuk dibolehin menginap di rumah nenek. Curang, ya?
Soal transportasi, kita sewa mobil. Berharap dapetnya Xenia-Avanza, ternyata mas-mas rental ngasihnya Innova. Alhamdulillah, kecuali dari segi konsumsi BBM-nya.

21 November 2013

“Lagi dimana?”, suara di seberang telefon bertanya, terdengar nyaring.
“Carrefour…”, si anak menjawab pertanyaan ibunya.
“Jauh-jauh ke Makassar cuman ke Mall doang?!” Iya bu, kita emang anak gaul mall, nggak bisa lepas dari situ, gue membatin sambil tertawa.

Sebelum dua anggota terakhir dateng, kita, 4 orang yang dateng duluan, jalan-jalan keliling kota Makassar. Tujuan pertama? CARREFOUR! –atau lebih tepatnya, MTC Karebosi Makassar– buat nyari beberapa perlengkapan penting, seperti mobile USB charger. Karena kami hidup dengan slogan
“Tanpa Smartphone, Kami Tersasar”
Masalahnya, orang lokal –gue– di trip ini nggak bisa diandalkan sama sekali buat nanya lokasi, dan arah. Jangankan tempat, bahasa lokal aja udah nggak mampu. Jadi, GPS To The Rescue!, dan GPS andalan kami adalah *drum roll*
Google Maps!!

***

Si @medy_ramd, semenjak dateng sampe siang selalu menyerukan “Cumi Bakar!”, akhirnya untuk makan siang kita pergi cari restoran seafood. Logika yang baik mengatakan, restoran seafood adanya di deket pantai, jadi sekalian lah kita cari di deket Pantai Losari. Ketika kita lewat di Jl. Datuk Musseng, seseorang menyahut “Tuh.. warung seafood.” Gue nggak liat siapanya, karena sedang menjelma menjadi supir.
“Mau pesan apa?” Seorang mbak-mbak nyamperin kita, sambil nyodorin dua buku menu. “Ikannya bisa langsung dipilih di sini.” lanjut si mbak itu, sambil ngebuka freezer seafood-nya.
Gelagat kayak gini sebenernya udah menandakan kalo tempat makan ini harganya nggak bakal bersahabat sama kantong a la backpacker kayak kita, cuman ntah karena laper ato emang polos, nggak ada yang aware sama kondisi ini. Seenggaknya sampe kita masuk ke dalem tempat makan dan menemukan meja yang terbuat dari marmer dan bertaplak renda-renda.
Kita. Salah. Pilih. Tempat.

Di tempat makan yang namanya gue rahasiakan, kita mesen 1 porsi udang asam manis, 1 cumi tumis hitam, 1 cumi bakar –iya, ini si @medy_ramd–, 1 udang bakar. Dihadapkan dengan kemungkinan makanan yang dipesan harganya nggak bersahabat, yang bisa dilakukan cuman satu, makan dengan lahap. Terlepas dari ZONK!!, 3 dari 4 menu ternyata rasanya enak, kecuali yang gue pesen, Udang Asem Manis. Udangnya sampe perlu gue celup ke kuah cumi tumis hitam yang dipesen Daryl supaya agak mendingan. Bill nya? Rp286.000 buat ber-4. Dan gue nggak mau lagi balik ke situ, kecuali dibayarin.

PS: Foto makanan tidak dapat dipublikasikan, mengingat kamera yang dipake buat ambil foto, rusak.

Kenyang dari makan makanan mahal, kita foto-foto di Pantai Losari, di tempat yang ada tulisan “Pantai Losari” dan “Makassar”-nya. Kenapa? 1) Dekat; 2) ada tulisan “Tai Lo” di “Pantai Losari”, dan foto di tengah-tengah tulisan itu adalah somewhat epic. 3) Ada “ASS” di “Makassar”, self explanatory.

Pantai Losari sendiri bukan Pantai yang ada pasirnya, tapi lebih ke tempat nongkrong. Lokasinya banyak dihiasi tulisan-tulisan gede seperti “Makassar”, “Bugis”, “City Of Makassar”, yang sering jadi photo spot orang-orang yang dateng ke sini. Di sini juga ada Mesjid Terapung –lupa nama mesjid benerannya apa– yang disangga tiang-tiang beton diatas laut.

Setelah dari Pantai Losari, dengan bantuan GPS kita nyari yang namanya Benteng Rotterdam. Perlu sekitar 30 menit kita muter-muter di Losari-Karebosi sebelum akhirnya menyadari bahwa Benteng Rotterdam itu cuman 10-15 menit ke arah utara Pantai Losari, dan lokasi yang ditunjuk oleh Google Maps adalah salah.

Dari penjelasan mas-mas penjaga musium, Benteng Rotterdam ini dibangun sebagai pertahanan terluar Kerajaan Goa waktu lagi hits perang antar negara, dimana Belanda masih hobi nyari komoditi dagang keluar negaranya dan juga ngejajah. Benteng Rotterdam ini berbentuk penyu, dikelilingi sama parit-parit yang dipake buat jalur masuk kapal. Rencananya, parit-parit itu mau dibikin lagi (dalam proses rekonstruksi), supaya lebih oke. Sukur-sukur kalo bisa dilewatin pinisi. Oiya, masuk Benteng Rotterdam ini gratis, cuman perlu bayar parkir. Tapi kalo udah masuk ke museumnya harus bayar Rp5000/orang. Selain jadi tempat wisata, Fort Rotterdam ini juga dipake buat kantor PNS. Lupa bagian dinas mana.

Di dalem musium ada pameran barang peninggalan Kerajaan Gowa seperti piring, duit logam, panji perang, tasbih, kitab lontara bertulisan arab, dan badik. ada juga semacam pameran lukisan yang ntah-kenapa-kok-ya-gue-nggak-tertarik sehingga tidak difoto.

Lepas dari Fort Rotterdam, kita ber-4 kemudian ke Akkarena, pantai berpasir hitam di daerah Tanjung Bunga, Makassar. Searah dengan Akkarena, juga ada Trans Studio Makssar. Tapi nggak begitu tertarik untuk masuk ke situ, selain (mungkin) mahal, di Bandung juga ada lokasi serupa (dan lebih dekat). Di Pantai Akkarena ini angkutan mobil dikenai biaya Rp5000, dan per orang ditarik biaya Rp10000.

Sayangnya, waktu kita ke Akkarena sepertinya si pantai abis kena gelombang pasang. Pantai kotor, sampah di mana-mana, dan mendung pula. Awalnya pengen liat sunset di sini, soalnya udah sore. Cuman ternyata nungguin sunset itu lama, plus bau agak amis. *sigh*. Di daerah pantai juga ada semacam dermaga yang sering jadi photo spot buat Akkarena. Waktu kita ke sini sempet ada yang foto-foto untuk pre-wedding gitu. Bikin pengen dorong ke air sekalian. *evil laugh*. Di Akkarena juga ada meja-kursi kecil dengan bangku 2-4 buat nongkrong, ngerjain tugas, pacaran, ato melamun *mblo alert!*. Ada juga warung kecil yang jual minuman ringan dan kelapa muda.

Sekitar jam setengah 5 sore kita balik ke rumah nenek, istirahat, sekalian siap-siap buat jemput dua anggota terbelakang yang datang belakangan, @hniawita dan @sifarachmah, dan lanjut ke Tanjung Bira, Bulukumba, Sulawesi Selatan.

To be continued..

You may also like

Leave a Reply