The Last: Naruto the Movie (2015)

Setelah manga Naruto tamat di sekitar chapter 700 akhir tahun 2014 lalu, beredar trailer Naruto the Movie untuk tahun 2014. The Last. Di Jepang sendiri, film ini dijadwalkan tayang Desember 2014, di Indonesia? film ini mulai tayang sekitar 2 April 2015. I’ve been away from cinema for a while, and i started with this.

Waktu awal niat mau nonton ini, sebenarnya nggak mengharapkan apa-apa, sih. Pengin dibikin kagum sama film ini, nggak. Pengin ngejelek-jelekin film ini juga nggak. I wasn’t aware what this film actually about, until my girlfriend give me a heads-up. It’s a love story.

The Last ceritanya kejadian dua tahun setelah perang dunia ninja ke empat –konflik terakhir di komik,

ngelawan ibunya Sage of Six Paths, Kaguya –, Kakashi udah jadi hokage, dunia ninja lagi adem-ademnya, dan Naruto jadi idaman para kohai dengan panggilan khas adek kelas yang minta di-notice, “Naruto-senpaaaaai~”

Film ini sebenernya mau cerita gimana latar belakang Naruto bisa jadian ama Hinata (yang kemudian menikah dan punya anak. medetashi medetashi.  Jadi kalo Naruto ditanya ama anaknya, “Ayah.. ketemu Ibu waktu itu gimana?” Naruto bakal jawab “Jadi nak, waktu itu bulan mau nabrak bumi.. terus..” Iya, di film ini, Bulan ditarik ke bumi sama orang yang namanya Toneri. Dia ga suka ama turunan Sage of Six Paths yang sekarang berkembang biak di bumi, dan menanggap kalo aliran turunan si Rikudoi Sennin ini sesat (FPI much?).

Jadi, serupa dengan ekstrimis-ekstrimis yang ada di dunia nyata, Toneri juga penginnya bumi hangus tapi lebih elit dikit, tabrakin bulan ke bumi. Apakah Naruto dkk rela? Nggak, dong. Naruto blm confess sama Hinata, Sakura masih kebayang-bayang ama Sasuke mulu. Bahkan, banyak yang belom tau sebenernya mukanya Kakashi kayak apa.

Film ini emang dibikin buat pemuja pairing NaruHina, sih. Porsi love story nya jauh lebih banyak. Adegan berantemnya ya standar Naruto dengan Rasenshuuriken yang dilempar kemana-mana dengan gampangnya (malah ada adegan brantem di luar angkasa, lho). Konflik yang ditonjolkan malah konflik batinnya Hinata. Malah lebih sesuai kalo dikasih judul Hinata the Movie: How I Met Your Father. (Langgar hak cipta gak, sih? LOL)

“The Last” disini nggak menggambarkan kalo ini film terakhir dari Naruto. Karena Kishimoto-sensei belum mau move-on sepertinya.

Eniwei, film ini agaknya nggak direkomendasikan untuk ditonton sendiri (mending nonton Furious 7), kecuali ya nge-fans sama Naruhuna pairing. Ceritanya bisa dinikmati, sih. Tapi nggak menimbulkan kesan apa-apa.

You may also like

Leave a Reply