The 2017 Recap (Part I)

Ada banyak kejadian di 2017 yang saya tidak sempat tulis di blog, walau ingin. Di bagian draft saja ada sekitar 3 hingga 5 tulisan, mulai dari review pena yang saya beli tahun lalu, pendapat tentang kondisi ponsel pintar mid-end di pertengahan 2017, hingga tentang frame sepeda yang baru saya beli. Belum lagi cerita kehilangan sepeda yang saya pakai di sini. Belum lagi catatan-catatan di Keep, yang diberi tanda “ingin di-post” tapi nyatanya nggak ditulis-tulis. Berhubung tahun lalu cuman posting satu, iya, SATU, gimana kalo milestones kejadian dirangkum di satu postingan ini aja, ya kan?

The Overdue Jump Start in 2017

Ada self-note yang lumayan signifikan ketika menginjak masuk 2017, sisa-sisa perjalanan ke Jepang di akhir 2016 nggak hilang gtu aja. Kalo diandaikan pergi ke Jepang itu sebagai mabuk, maka awal-awal 2017 itu bisa dianggap fase hangover. Sekarang udah nggak terlalu ingat detilnya gimana, tapi masih kebayang rasa frustasi waktu KRL bermasalah, macet, sulit sepedaan, trotoar di MT Haryono dibongkar buat pelebaran plus galian kabel (dan kemudian MRT menyusul). Rasa frustasi yang dibarengi menggumam “kalo tinggal di Jepang nggak bakal gini nih…” dirasain hampir tiap hari, tiap berangkat ngantor. Ada kali sekitar 2-3 bulanan. Iya, segitunya.

Hasil gambar untuk overdue
Denda…

Awal 2017 itu juga awal-awal dihantui sama denda karena studi S2 belum selesai. The incoming denda per bulan sekitar beberapa juta rupiah, yang selalu dibarengi dengan “makanya buruan beresin, biar nggak bayar denda” oleh hampir semua orang yang mengerti kondisi ini. Kondisi milestone di awal 2017 sendiri nggak suram sebenernya, di akhir 2016 sebelum liburan itu memang memaksa diri untuk seminar proposal. Alasannya, biar liburan bisa tenang. Liburannya tenang, pulangnya nggak. *plak*. Kalo liat dari tanggal modifikasi file yang berhubungan dengan tesis, quartal 1 2017 itu saya emang kebayankan nggak ngapa-ngapain, deh. Di awal bulan April kemudian ada informasi tentang beasiswa studi ke Jepang. Looking back now, that was the initial shock, the thing that jump started everything. Awal april, pengin lulus per 30 Agustus. Bisa? Bisa. My study was overdue anyway.

The Push that Moves Me Out of My Parent’s House

Cita-cita di tahun 2015 yang nggak kesampean di tahun 2016, diwujudkan di tahun 2017. Iya, saya pengin kos sejak 2015, tapi selalu terbentur dengan ijin orang tua (Asian parents dan moving out memang punya kecenderungan begitu, sih). Akhirnya di akhir maret, mengambil keputusan untuk cari kosan, tanpa ijin. Setelah setuju untuk tanggal moving-in di kosan, bayar sewa sebulan, H-1 pindah kosan, baru kasih informasi. Niatnya bukan minta ijin pun, kasih informasi. Tentu, pindah ke kos ini ada big push nya juga. Kalo nggak, mungkin keadaan akan tetap sama. Beberapa minggu sebelumnya, saya kecelakaan motor. Kecelakaan tunggal, menghindari kucing nyebrang jalan. Kucingnya selamat, saya dan motor baret-baret. Alasan kenapa saya harus sampai jatuh menghindari kucing, karena ngebut. Kenapa ngebut? karena telat berangkat ngantor. Kok bisa sampe telat? This will take a longer explanation, tho.

Sejak mulai kerja di tahun 2012, waktu tempuh ke Stasiun Bogor dari rumah orang tua cenderung meningkat tiap tahun. Di Tahun 2012 hanya 15 menit bermotor santai, 2013 menjadi sekitar 20 menit, 2014 25 menit, 2015 30 menit. Di Tahun 2015 saya berganti moda menggunakan sepeda, waktu tempuh menjadi 22 menit, sudah termasuk waktu ganti baju (sepedaan dengan kecepatan rata-rata 20-25 km jam, menanjak, agak impossible untuk tidak berkeringat). 2015 hingga 2017 rata-rata 30-35 menit menggunakan motor dan santai, ngebut (dan beresiko kecelakaan) 20 menit. Masalahnya, bukan cuma waktu tempuh yang makin lama, waktu rata-rata bangun pagi juga geser, sekitar 5 menit per tahun. Makin suram. Kecelakaan itu makin bikin mikir “kalo berangkat dari kosan deket stasuin, bisa sepedaan 10 menit, nggak perlu ngebut, apalagi ganti baju.”

Hasil gambar untuk Macet Bogor
Hadeeeeeh…

Setelah pindah kosan, ke Stasiun Bogor jadi santai, ke kampus juga jadi dekat. Memang, biaya kos per bulan bersaing dengan iuran KPR rumah yang banyak kawan seumuran saya sudah mulai lakukan. Masalahnya, untuk sekarang, saya belum mau terikat dengan kepemilikan rumah (Plus, saya nggak segitu beruang untuk DP rumah di jauh-jauh yang affordable gara-gara social pressure *dibuang*). Saya punya pendapat sih, masalah perumahan dan penyebarannya di daerah satelit Jakarta, terutama Bogor yang nggak punya akses angkutan umum yang PROPER. Tapi mungkin untuk lain hari. Apalagi saya bukan pakar. Intinya, pindah tempat tinggal ke dekat pusat kegiatan pribadi mengurangi kebutuhan atas kendaraan bermotor (e.g. Motor, Mobil), mengurangi waktu tempuh, menambah alokasi waktu pribadi DI LUAR macet. Win.

Hasil gambar untuk Pakar Yha

The Lost Bike

Jangan pernah lupa untuk kunci sepeda, like, EVER. Kalaupun sudah dikunci, please pastiin kalo udah dikunci. Di pertengahan 2017 saya kehilangan sepeda karena salah satu dari dua hal itu. Lupa memastikan kalau sudah terkunci dengan baik. Saya memang pindah parkiran sejak kos, karena aksesnya ke stasiun lebih mudah. Sejak 2011 hingga awal 2017 saya selalu parkir motor di tempat yang sama, bahkan ketika parkirannya pindah (karena sewa lahan habis), saya ikut pindah, walau akses ke Stasiun Bogor yang sudah susah, jadi makin sulit. Dengan sepeda, saya bisa parkir di parkiran motor yang dikelola langsung oleh Stasiun Bogor dan gratis! (catatan: sejak September 2017, sudah tidak gratis lagi. LOL.). Suatu hari, saya mendapati sepeda saya tidak di tempatnya saat pulang kantor. Penjaga parkiran juga tidak aware dengan keberadaan sepeda. Pemilik warung di dekat saya parkir sepeda juga tidak sadar. Rantai sepeda ikut hilang bersama sepedanya. Ini alasan kenapa saya berkesimpulan kalau rantainya tidak terkunci dengan baik.

The Resign and 30th of August Deadline

Di atas saya sempat sebut “lulus 30 Agustus”, kenapa ini penting? Karena saya pengin ngejar beasiswa ke Jepang. Ada kesempatan lagi untuk ke Jepang, dengan waktu tinggal lebih lama, what not to like? Beasiswa itu mensyaratkan saya harus diterima sebagai mahasiswa di sebuah universitas di Jepang. Hurdles nya? Banyak. Untuk diterima, waktu itu saya harus lulus per 30 Agustus 2017. Untuk lulus, saya harus melewati satu lagi sidang komisi, seminar hasil, punya tulisan yang dimuat di jurnal, dan sidang tesis. Terlebih, pembimbing waktu itu pengin kalo jurnal saya dimuat di salah satu jurnal IPB yang peer-reviewed. Nggak bisa instan. It was crazy. 

Mengatur waktu antara kerja, nulis tesis, nulis proposal penelitian untuk (waktu itu calon) professor di Jepang, nulis draft jurnal, bikin seringkali harus merelakan waktu tidur dipotong. Untung udah ngekos, jadi deket (eh..). Perlu waktu sekitar 4 bulan untuk akhirnya saya dapat pemberitahuan bahwa tulisan saya akan dimuat di jurnal. Ini syarat sidang. Perlu waktu 4 bulan lebih sedikit untuk dapat pemberitahuan bahwa saya diterima sebagai mahasiswa di Universitas di Jepang. Perlu waktu 4 bulan juga untuk kemudian tahu kalau beasiswa yang jadi pemicu semua ini ternyata nggak applicable dengan bidang penelitian saya. It was weird. Target lulus sebelum 30 Agustus 2017 berhasil dicapai, sih. Tapi setelah semuanya, ternyata nggak ada yang bayarin buat keluar negeri, LOL. Tercapainya deadline juga, mungkin, karena dibantu alokasi waktu lebih akibat saya resign di Juli 2017. Dapet 2 bulan waktu ekstra, lumayan banget. Di periode ini, saya jadi tenaga surveyor freelance untuk sertifikasi kelapa sawit sustainable. Nolong banget, walaupun ngepas. LOTS of insights, terutama tentang sustainable palm oil.

You may also like

Leave a Reply