The 2017 Recap (Part II)

Setelah di Part I saya tulis beberapa kejadian di 2017, yang menurut saya merupakan milestones di tahun lalu, ada satu lagi cerita yang jadi penutup tahun yang luar biasa. Saya memutuskan untuk menuliskannya di bagian yang terpisah, karena tulisan Part I sudah cukup nggak penting lumayan panjang.

The Move: Japan

Sejak informasi beasiswa studi ke Jepang di awal April 2017, kebanyakan milestones tujuannya untuk ke Jepang. Dengan tema serupa dengan pertengahan 2016, “For Japan”. Bedanya, target Japan kali ini bukan masuk dengan waiver visa (well, tetep make sih. Keep reading) melainkan dengan Student Visa! Belakangan diketahui kalau ternyata saya tidak applicable untuk beasiswa yang saya tuju. Ini sempat jadi masalah besar. Tanpa beasiswa, siapa yang nanggung biaya SPP nya coba? Ya dengan biaya pihak swasta (private, pribadi, swasta, got it? no? okay.jpg). Karena telah masuk masa 2 bulan mengundurkan diri, di September 2017 saya memilih untuk mencairkan BPJS TK yang terkumpul selama masa kerja 5 tahun. Lumayan, loh. Ditambah dengan biaya-biaya dan dukungan dari pihak lain, akhirnya saya memutuskan untuk persiapan moving-out. Dari semua persiapan, nggak ada yang lebih nyebelin dari pencairan BPJS TK sih, tapi ini buat cerita lain kali aja. Bikin visa aja masih lebih gampang. LOL.

Awal September 2017, dapat kabar dari sensei kalau status saya sebagai mahasiswa akan dimulai per Oktober 2018, dan kegiatan seminar rutin menanti. Padahal belum dapat kejelasan status tentang the mighty Certificate of Eligibility (CoE). Menurut website imigrasi jepang, CoE untuk visa pelajar diurus oleh uni. Setelah baca-baca tentang proses CoE di uni tujuan, katanya perlu diurus oleh supervisor. Akhirnya, untuk kejelasan, saya cerita situasi Visa ke sensei. Besoknya, saya dapat e-mail dari uni untuk memulai proses CoE.  Submit dokumen yang diperlukan, kemudian menunggu dan menghitung hari. Menurut informasi dari uni, CoE butuh 14 hari kerja, mulai diproses tanggal 7 September, perkiraan selesai 26 September. Kalo pengiriman ke Indonesia, bisa-bisa dokumen baru nyampe bulan Oktober 2017. Akhirnya, pake alamat pengiriman di Jepang. Ngambilnya? ya terbang, ke Jepang. Sebagai catatan, pengurusan visa pelajar perlu waktu 4 hari kerja, dan butuh CoE. Saat itu, saya nggak tau apakah bisa switch gitu aja dari temporary resident ke student tanpa keluar negara, karena kemungkinan perlu cap imigrasi, kan. Googling juga nggak ngasih informasi yang jelas. Karena tidak mau ambil resiko, akhirnya bikin rencana ambil CoE ke alamat pengiriman di Jepang, bawa semua barang-barang, dan urus tempat tinggal. Untuk ini saya masuk dengan waiver visa dengan masa tinggal 15 hari. Tiba di Jepang tanggal 27 September, CoE datang tanggal 29, kontrak di tempat tinggal dimulai tanggal 31 September. 1 Oktober terbang balik lagi ke Indonesia, tanggal 2 mendarat, langsung meluncur ke VFS buat urus visa. Tanggal 6 visa jadi, Tanggal 9 terbang lagi. LOL.Seminggu setelah itu, kegiatan seminar dwi-mingguan di uni dimulai, dan dibantai. Proposal penelitian yang selama ini disusun dengan bimbingan via e-mail ternyata banyak celahnya. Bimbingan secara langsung memang lebih on-point, sih.

Settling In

Selama beberapa hari pertama, saya tinggal di Len Hostel, Kyoto Kawaramachi. Tahun lalu saat liburan, saya juga tinggal di sini. Alasan? Ada dapurnya. Di sini, makanan microwave memang banyak dan tersedia 24 jam. Masalahnya, beli bahan mentah di supermarket dan masak sendiri tetep lebih murah. And i’m cheap poor. Lengkapnya soal Len baiknya dibahas di posting terpisah. Di minggu pertama ini nggak banyak yang dilakukan kecuali nunggu LoA dari Kyodai datang, sepedaan, dan keliling kota. Familiarizing myself with the city. Di akhir masa stay, saya pindahan ke salah satu apartemen yang dikelola oleh J-Stay, sekitar 30 menit perjalanan menggunakan sepeda ke kampus. Agak jauh memang, tapi nggak banyak pilihan untuk apartemen awal yang bisa saya atur sebelum betul-betul datang ke Jepang dan punya Zairyuu Card. Mereka menyediakan apartemen full-furnished untuk hidup ala kadarnya dan menerima pembayaran cash di awal waktu tinggal. Tapi layanan J-Stay tetap memerlukan detail kartu kredit, untuk alasan keamanan (dari sisi mereka, siapa tau yang book cuman iseng). Mereka punya apartemen yang lebih dekat dengan kampus, sayangnya saat itu tidak tersedia.

Setelah dapat visa tinggal lebih lama, saya kemudian bisa urus dokumen-dokumen lain terkait kependudukan, Alien Card, BPJS (Nggak, namanya bukan BPJS, cuman ini asuransi kesahatan bawaan pemerintah, wajib. Karakternya mirip BPJS, so…), dan My Number. Setelah komplit, baru nyaman ngapa-ngapain. Tapi di poin ini belum bikin rekening bank. Belum tinggal 6 bulan soalnya.

Closing 2017

Menutup tahun 2017 di Jepang, saya melalui beberapa hal yang lumayan berkesan. Setelah komunikasi lumayan intensif dengan agen real estate, akhirnya saya dapat kandidat apartemen yang bisa saya tempati ke depannya. Ujian untuk PhD juga dilakukan dan diumumkan di bulan Desember 2017. Beberapa hari sebelum 2017 resmi tutup tahun, hasil ujan diumumkan melalui e-mail. Pagi buta. Agak anti klimaks, memang. Tapi saya lulus ujian dan diterima sebagai mahasiswa PhD per April 2018. So, yeah. My stay is extended.

Secara cerita, proses moving out-in nya memang lebih padat, tapi aslinya, proses persiapan exam lebih ngerepotin, LOL. Terutama soal proposal dan revisiannya.

Terima kasih sudah membaca.
Catch you on the next story.

 

You may also like

Leave a Reply