Review Laptop dan Bagaimana Saya Berharap Tech Youtuber Indonesia Mengulas Ryzen Mobile: Yoga 530

Panjang aja judulnya…

Beberapa waktu lalu, saya sempat cerita panjang lebar tentang AMD Ryzen, khususnya di laptop, yaitu Ryzen Mobile. Tentunya, saya nggak bakalan nulis panjang lebar kalo nggak beli. Ga beli, ga boleh komen, katanya. Sebagai pengguna yang tidak berasal dari kalangan mainstream, pilihan saya terhadap produk-produk teknologi kebanyakan berdasarkan riset, sedikit banyak. Walaupun nggak jarang ada yang emosional juga. Apalagi kalo ada diskonan.

Produk laptop kali ini, termasuk yang educated, walaupun pemicunya agak-agak emosional. Laptop kerja mati total dan mepet deadline. Emosi. Tapi saya juga emang kurang suka sama Intel x Nvidia. Emosi. Tetep pilih Ryzen Mobile walaupun tau ada beberapa masalah penting terkait driver. Emosi. Selain Yoga 530, kandidatnya waktu itu nggak banyak: HP Envy x360 13 (Ryzen 2500u). Prioritas: Touchscreen, ada pulpen, Thin and Light. Pilihan akhirnya ke Yoga 530, karena lebih murah 2 juta, DDR4 expandable, dan sudah dual channel. Educated.

The Usuals

Yang penting diketahui adalah RAM yang termasuk dalam paket penjualan Yoga 530 yang saya dapat adalah dual-kanal 2666 MHz. Tapi, karena Ryzen 5 2500u mentok di 2400 MHz, kebacanya tetep 2400 MHz. SSD yang sudah NVMe juga bikin proses booting jadi ngebut. Laptop sleep dan nyalain dari awal bedanya cuman 2 detik, karena ada booting screen. Kalau butuh dengerin sesuatu via speaker, Yoga 530 dibantu oleh downfiring speaker yang dikalibrasi oleh Harman Kardon juga. Saya sih, seringnya pake headphone jack aja. Ada port USB-C 3.1 dan 2x USB-A 3.1 di kiri dan kanan, plus card reader. Sayangnya webcam belum dukung Windows Hello dan nggak ada fingerprint reader.  Opsional, soalnya. Windows 10 Home plus Windows Ink di layar 1080p touchscreen plus pulpen juga lumayan kalo mau coba catat sesuatu, pas meeting, misal. Color gamut nya biasa aja, sekitar 55%. Chargerannya, 65W, fast charging. Bobot tanpa charger, 1.6 kg. Daya tahan baterai, 4.5 jam maks (klaim 8 jam, jangan percaya. LOL). Oh, karena laptop ini lumayan mahal, palm rest nya terbuat dari logam. Kalo pake plastik ntar dibilang mau cepet naik haji, soalnya. Ryzen 2500u sendiri punya GPU Vega 8 on-board, artinya kalo dipake main game terkini, bisa lancar.

The Good

Kalau suka feel ngetik keyboardnya Lenovo, Yoga 530 ini ngasih pengalaman yang sama persis dengan generasi sebelumnya. Saya sendiri nggak ngerasa ada beda dibanding sama Lenovo Z40-70 yang saya pakai dari 2015. Sepanjang saya punya laptop, kayaknya memang belum pernah beli selain merk Lenovo. Karena nggak cukup perlente, nggak pernah juga ambil kelas ThinkPad-nya. Tapi, walaupun udah bukan punya IBM lagi, sejak dulu rasa penggunaan keyboardnya Lenovo nggak pernah berubah, sih. Sering cobain keyboard ASUS punya temen, nggak sreg. HP, untung-untungan. Dell, Thin and Light nya nggak kebeli. Akses panel bawah untuk upgrade atau bersih-bersih juga nggak (terlalu) susah. Dari Lenovo Indonesia nggak ada baut yang sok-sok ditutupi “warranty void if seal is broken“, walaupun Yoga 530 pakai baut Torx. SSD, RAM, dan WiFi card combo juga bisa diganti. Di daerah heatsink processor juga nggak ada stiker garansi, jadi kalau mau ganti thermal paste processor, ga pake nunggu garansi abis.

Things I Wish Was Discussed Deeply Among TechTubers

Biasanya, kalo tonton video-video di Youtube, reviewnya cuman sampe poin di atas aja. Ato nggak, tambah poin minus beberapa. Misal kayak baterai yang nggak seperti klaim, layar yang semenjana, atau pulpen yang pake baterai AAAA (yep, A4. bukan kertas. Baterai.). Tapi masalah laptop-laptop dengan Ryzen Mobile yang perlu diketahui calon pembeli nggak terbatas sampai di situ, kalau menurut saya. Apalagi kalau video-video tersebut jadi salah satu bahan pengambilan keputusan membeli. Harapan saya sih, review produk lebih lama, tapi pake riset sana-sini dan lebih kritis. Tapi ya ga tau juga kalo dikejar deadline.

1. STAPM Conundrum

Too Technical; DR, Performa Ryzen Mobile beda-beda tiap jenis dan pabrikan laptop. Untuk Yoga 530, Setelah update BIOS performa meningkat. Tapi nggak ada tech review, apalagi Youtuber Indonesia yang bahas masalah ini.

Laptop dengan Ryzen Mobile belum tentu dibuat sama persis untuk setiap model oleh setiap pabrikan. Ryzen 2500u di HP Envy x360 13, x360 15, dan Lenovo Yoga 530 misalnya, oleh masing-masning pabrikan diberikan limit berbeda: 20W, 25W, dan 15W (Limit di Yoga 530 kemudian naik menjadi 20W setelah update BIOS). Dampaknya adalah, kalau tiga laptop ini dipake buat main game yang sama, Yoga 530 bakalan throttle duluan sebelum HP x360, karena “kepanasan”. Yang menjadi poin pembahasan di sini adalah, bukan karena sistem pendinginan yang tidak mumpuni, melainkan algoritma STAPM yang memberitahu bahwa chip sudah pada batas “panas” sehingga performa harus diturunkan. Padahal, berdasarkan diskusi pada thread reddit, suhu processor belum menyentuh 80 derajat C. STAPM sendiri adalah Skin Temperature Aware Power Management, yang dikembangkan oleh AMD pada tahun 2014. Fokus teknologi ini sendiri adalah “panas” yang dirasakan oleh kulit pengguna laptop. Ini yang menyebabkan standar STAPM yang berbeda-beda tiap jenis laptop pada masing-masing pabrikan.

Cuman, saya yakin kalau kebanyakan pembeli bakalan mengira bahwa seluruh Ryzen Mobile pada tiap jenis laptop itu akan punya performa mirip-mirip. Ulasan teknis seperti ini yang saya tidak temukan pada produk-produk Ryzen Mobile yang di-review oleh kanal-kanal Youtube di Indonesia, terutama yang fokus pada ulasan laptop. Padahal, ini merupakan salah satu faktor penentu penting pemilihan produk. Terutama, karena AMD sendiri nggak bilang apa-apa soal ini. Perbedaan patokan STAPM ini mirip sama kasus perbedaan Nvidia MX150, ada yang 10W ada yang 25W.

Untuk Yoga 530-14ARR sendiri, waktu pertama buka kotak, BIOS yang terinstall adalah versi 8MCN25WW dengan STAPM 15W pada Performance Mode dan 13W pada Quiet Mode (setting ini diubah via menu BIOS). Setelah update ke BIOS 8mcn46ww, limit STAPM kemudian naik ke 20W untuk Performance Mode dan 13W pada Quiet Mode. Perubahan ini menyebabkan perbedaan jeda waktu throttling dari awalnya sekitar 4 menit saat stress test menjadi sekitar 8 menit di suhu sekitar 64 derajat C (suhu ruangan 31 derajat C), alias peningkatan hampir 50%. Kalau yang kayak gini nggak dibahas sama orang yang paham, siapa lagi yang mau bahas?

2. Drivers

TL;DR Ga ada TechTubers yang bilang kalo Driver di Ryzen Mobile belum diupdate dari pertama launch. Padahal ini penting banget.

Laptop-laptop yang dibekali dengan Ryzen Mobile diulas dengan tagline macam-macam. Ada yang murah, ada yang kuat untuk gaming, ada yang premium, ada juga yang mengecewakan. Masalahnya, nggak ada satupun, dari review tersebut yang bilang, kalau driver AMD Adrenaline-nya Ryzen Mobile itu belum di-update dari pertama kali diluncurkan, dan kemungkinan belum akan dapat update sampai tahun depan. Tentu ini berkaitan dengan performa. Masalah terkait driver ini nggak sedikit, loh. Selain STAPM yang saya bahas di atas: VLC crash di DX11, Adobe atau Blender nggak bisa deteksi GPU, Framedrops, screen flickering, ga bisa ganti resolusi, random crashing, etc.

Kalau misalkan buka Adobe atau Blender trus GPU-nya nggak kedeteksi, gimana caranya bisa dibilang “terbaik“, “untuk pegiat industri kreatif“. Atau ada masalah screen flicker, framedrops atau ga bisa ganti resolusi, gimana bisa dibilang “untuk gaming“? Ya syukur kalo yang beli nggak ketemu sama bug-bug di atas, tapi kalo yang kena, gimana? Indonesia kan belum punya kebijakan retur balik duit 100%. Untuk hal ini juga, kenapa di tulisan saya sebelumnya, saya bilang kalau ga mau repot, beli Intel + Nvidia MX 150 aja. Saat ini, dukungan driver dari Nvidia jauh lebih baik karena nggak perlu nunggu update driver dari OEM.

Untuk Yoga 530 saya saat ini nggak ada masalah berarti, karena emang belum dipaksa kerja keras aja. Masalah agak mengganggu paling di fan curve yang agak agresif dan berisik. Ini juga bisa diatasi dengan update driver, sebenernya.

 

All in all, saya cuman berharap kalo nggak ada orang-orang awam yang cuman ingin produk terjangkau dengan value terbaik kemudian dikecewakan dengan segala macam masalah yang timbul dari Ryzen Mobile karena review-review yang kurang mendalam. Untuk Produk Yoga 530 sendiri, saya belum menemukan masalah-masalah yang saya sebutkan di atas (selain limit STAPM, tentunya). Tapi tidak berarti produk yang lain tidak bermasalah. Review-review seadanya yang kurang membahas segi teknis suatu produk ini sangat beresiko ketika dijadikan dasar pengambilan keputusan untuk pembelian produk. Padahal, mayoritas orang mencari atau menonton review karena perlu opini-opini untuk pengambilan keputusan.

Semoga saja, kedepannya, review-review teknologi, di Youtube khususnya, tidak bermain aman dan membedah produk yang diulas dengan baik. Ulasan, bukan hanya memberi kesan.

 

You may also like

Leave a Reply